Wawasan

10 Jenis Ancaman Keamanan Siber yang Perlu Diwaspadai Perusahaan

Jenis Ancaman Keamanan Siber yang Perlu Diwaspadai Perusahaan
Rate this post

Pernah menerima email yang kelihatannya berasal dari atasan, tetapi ternyata meminta transfer uang ke rekening yang tidak dikenal? Atau komputer kantor tiba-tiba lambat, file tidak bisa dibuka, dan muncul permintaan tebusan?

Hati-hati, bisa jadi ini tanda perusahaan Anda sedang menghadapi salah satu jenis ancaman keamanan siber.

Karena, ancaman siber sekarang tidak hanya menyasar perusahaan besar. Apalagi in this economy, orang-orang bisa aja nekat untuk mendapatkan keuntungan yang tentunya hanya sesaat.

Dan yang lebih menakutkan lagi, serangan ini biasanya tidak selalu terlihat seperti seseorang sedang mencoba membobol server. Pelaku bisa masuk melalui email, aplikasi, kata sandi yang bocor, jaringan Wi-Fi, bahkan perangkat milik karyawan.

Agar lebih mudah dikenali, berikut beberapa jenis ancaman keamanan siber yang perlu diwaspadai perusahaan.

1. Phishing

Phishing merupakan salah satu ancaman siber yang paling sering kita temukan. Pelaku biasanya menyamar sebagai pihak yang dikenal, seperti bank, pelanggan, vendor, atasan, atau penyedia aplikasi.

Tujuannya adalah membuat korban mengklik tautan, membuka lampiran, memasukkan kata sandi, atau memberikan informasi penting.

Contohnya, karyawan menerima email yang meminta dirinya melakukan login ulang ke akun perusahaan. Tampilan halaman login dibuat sangat mirip dengan aslinya. Namun, ketika email dan kata sandi dimasukkan, data tersebut langsung dikirim kepada pelaku.

Karena phishing memanfaatkan kelengahan pengguna, edukasi karyawan menjadi salah satu cara penting untuk mencegahnya.

2. Malware

Malware adalah istilah umum untuk program berbahaya yang dibuat untuk mengganggu, mencuri, memata-matai, atau merusak sistem.

Malware dapat masuk melalui berbagai cara, mulai dari aplikasi tidak resmi, file bajakan, lampiran email, website berbahaya, perangkat USB, hingga software yang tidak diperbarui.

Baca Juga:  Apa Itu Server Enterprise? Fungsi dan Keunggulannya untuk Perusahaan

Setelah masuk, malware dapat melakukan berbagai tindakan, seperti mencuri data, mencatat aktivitas pengguna, menghapus file, atau membuka akses bagi pelaku.

Beberapa jenis malware yang umum ditemukan meliputi virus, worm, trojan, spyware, dan ransomware.

Komputer yang terkena malware biasanya menunjukkan beberapa tanda, seperti performa menjadi lambat, muncul aplikasi asing, browser sering berpindah halaman sendiri, atau antivirus tiba-tiba tidak aktif.

3. Ransomware

Ransomware adalah serangan yang membuat file atau sistem tidak dapat diakses. Pelaku kemudian meminta uang tebusan agar akses dikembalikan.

Jenis ancaman ini cukup berbahaya karena dapat menghentikan operasional perusahaan. Dokumen pelanggan, data keuangan, file proyek, hingga sistem internal bisa terkunci dalam waktu yang hampir bersamaan.

Bayangin kalau tiba-tiba seluruh data pekerjaan tidak dapat dibuka saat perusahaan sedang mengejar deadline. Selain menghambat pekerjaan, serangan ini juga dapat menimbulkan kerugian materiil dan menurunkan kepercayaan pelanggan.

Membayar tebusan juga tidak menjamin data akan kembali. Karena itu, perusahaan perlu memiliki backup yang terpisah dari sistem utama dan melakukan pengujian pemulihan data secara berkala.

4. Serangan Password

Kata sandi masih menjadi pintu masuk utama ke banyak sistem perusahaan. Sayangnya, masih banyak orang menggunakan password sederhana seperti nama perusahaan, tanggal lahir, atau kombinasi angka yang mudah ditebak.

Untuk mengurangi risikonya, gunakan password yang kuat dan berbeda untuk setiap akun. Aktifkan juga autentikasi dua langkah atau multi-factor authentication.

5. Social Engineering

Social engineering adalah cara memanipulasi seseorang agar memberikan informasi atau melakukan tindakan tertentu.

Pelaku tidak selalu menggunakan teknik komputer yang rumit. Mereka justru memanfaatkan rasa panik, percaya, takut, atau terburu-buru dari korbannya.

Contohnya, seseorang menghubungi staf keuangan dan mengaku sebagai direktur perusahaan. Ia meminta pembayaran segera dengan alasan sedang berada dalam rapat dan tidak dapat menjalankan prosedur seperti biasa.

Dalam situasi terburu-buru, mungkin yang ditelepon mengikuti permintaan tersebut tanpa melakukan konfirmasi ulang.

Serangan social engineering dapat dilakukan melalui email, telepon, pesan WhatsApp, media sosial, atau bahkan pertemuan langsung. Karena itu, perusahaan perlu memiliki prosedur verifikasi yang jelas, terutama untuk permintaan yang berkaitan dengan uang, data, dan akses sistem.

Baca Juga:  Panduan Dasar Sukses Membangun Data Center Setup Perusahaan

6. Serangan DDoS

Distributed Denial of Service atau DDoS adalah serangan yang membanjiri server atau jaringan dengan jumlah permintaan yang sangat besar.

Akibatnya, website atau sistem menjadi lambat bahkan tidak dapat digunakan oleh pengguna yang sebenarnya.

Serangan ini dapat diibaratkan seperti ribuan orang berdiri di depan pintu masuk kantor secara bersamaan. Pelanggan dan karyawan yang benar-benar berkepentingan akhirnya tidak bisa masuk.

Bagi perusahaan yang menjalankan website transaksi, aplikasi pelanggan, atau sistem online, DDoS dapat mengganggu pelayanan dan menimbulkan kerugian selama layanan tidak tersedia.

Mengatasi DDoS membutuhkan kombinasi monitoring trafik, perlindungan jaringan, firewall, kapasitas infrastruktur, dan sistem mitigasi yang sesuai.

7. Ancaman dari Orang Dalam

Tidak semua ancaman keamanan siber berasal dari luar perusahaan. Risiko juga bisa datang dari karyawan, mantan karyawan, vendor, atau pihak lain yang memiliki akses ke sistem.

Ancaman dari dalam dapat terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja.

Contohnya, karyawan tidak sengaja mengirim dokumen rahasia kepada penerima yang salah. Bisa juga seseorang menyalin data perusahaan sebelum mengundurkan diri.

Masalah seperti ini sering muncul ketika hak akses tidak dikelola dengan baik. Karyawan mungkin masih dapat membuka data yang sebenarnya tidak berhubungan dengan pekerjaannya.

Perusahaan sebaiknya menerapkan pembatasan akses berdasarkan jabatan dan kebutuhan. Ketika seorang karyawan pindah divisi atau keluar dari perusahaan, aksesnya juga harus segera diperbarui atau dinonaktifkan.

8. Kerentanan Software yang Belum Diperbarui

Notifikasi update sering dianggap mengganggu dan akhirnya terus ditunda. Padahal, pembaruan sistem bukan hanya membawa fitur baru, tetapi juga dapat memperbaiki celah keamanan.

Software lama dapat memiliki kerentanan yang sudah diketahui oleh pelaku. Jika patch keamanan belum dipasang, celah tersebut dapat digunakan untuk masuk ke sistem.

Risiko ini bisa muncul pada sistem operasi, aplikasi, firewall, router, plugin website, server, maupun perangkat lainnya.

Karena jumlah perangkat perusahaan cukup banyak, update sebaiknya dilakukan dengan jadwal dan prosedur yang jelas. Sebelum diterapkan ke seluruh sistem, pembaruan juga perlu diuji agar tidak mengganggu aplikasi yang sedang digunakan.

Baca Juga:  Apa itu Disaster Recovery dan Pentingnya Bagi Data Bisnis?

9. Man-in-the-Middle Attack

Man-in-the-middle adalah serangan ketika pelaku berada di antara komunikasi dua pihak tanpa disadari.

Misalnya, seorang karyawan menggunakan jaringan Wi-Fi publik untuk mengakses sistem kantor. Jika koneksi tersebut tidak aman, pelaku mungkin dapat memantau informasi yang dikirimkan.

Data login, isi komunikasi, atau informasi lain berisiko disadap atau diubah selama proses pengiriman.

Untuk mengurangi risiko tersebut, hindari mengakses data penting melalui jaringan publik yang tidak dikenal. Gunakan koneksi terenkripsi, VPN, dan sistem keamanan jaringan yang sesuai.

10. Kebocoran Data

Kebocoran data terjadi ketika informasi perusahaan dapat diakses atau tersebar kepada pihak yang tidak berwenang.

Data yang bocor dapat berupa informasi pelanggan, data karyawan, catatan keuangan, dokumen kontrak, informasi proyek, maupun akun pengguna.

Penyebabnya tidak selalu serangan yang rumit. Kebocoran data juga dapat terjadi karena salah mengatur akses penyimpanan, mengirim file ke orang yang salah, kehilangan laptop, menggunakan aplikasi yang tidak aman, atau menyimpan data tanpa perlindungan.

Dampaknya tidak hanya berupa kerugian finansial. Perusahaan juga dapat kehilangan kepercayaan pelanggan dan mengalami masalah hukum apabila tidak menjaga data dengan baik.

Akhir kata, jenis ancaman keamanan siber terus berkembang dan dapat menyerang dari berbagai arah. Mulai dari email phishing, malware, pencurian password, hingga kebocoran data, semuanya dapat mengganggu aktivitas perusahaan jika tidak diantisipasi.

Raja Server dapat membantu perusahaan menyiapkan dan mengelola infrastruktur IT yang lebih aman melalui layanan jasa cyber security.

Dengan monitoring, maintenance, patch management, dan dukungan teknis yang tepat, potensi gangguan dapat diketahui dan ditangani lebih awal.

Konsultasikan kebutuhan keamanan dan infrastruktur IT perusahaan Anda bersama Raja Server agar sistem tetap terlindungi, stabil, dan siap mendukung kegiatan operasional.

FAQ Seputar Ancaman Keamanan Siber

1. Apakah perusahaan kecil juga bisa menjadi target serangan siber?

Bisa. Pelaku tidak selalu memilih target berdasarkan ukuran perusahaan. Bisnis kecil justru dapat menjadi sasaran karena dianggap memiliki sistem keamanan yang lebih sederhana dan sumber daya IT yang terbatas.

2. Apa tanda-tanda perangkat perusahaan terkena serangan siber?

Beberapa tandanya antara lain perangkat tiba-tiba lambat, muncul aplikasi asing, password berubah tanpa sepengetahuan pengguna, file tidak dapat dibuka, akun mengirim pesan sendiri, atau terdapat aktivitas login dari lokasi yang tidak dikenal.

3. Apa langkah pertama yang harus dilakukan ketika terjadi serangan?

Segera pisahkan perangkat yang dicurigai dari jaringan, jangan menghapus bukti aktivitas, laporkan kepada tim IT, dan amankan akun yang berhubungan. Setelah itu, lakukan pemeriksaan untuk mengetahui sumber, dampak, dan langkah pemulihan yang diperlukan.

Raja Server Indonesia

About Raja Server Indonesia

RajaServer adalah unit bisnis spesialis infrastruktur IT dari PT Kirana Sakti Komputindo yang berfokus pada solusi server, storage, networking, data center, cloud, dan managed services.