Wawasan

7 Strategi Backup Data yang Aman untuk Perusahaan

strategi backup data aman

Data perusahaan merupakan aset penting yang mendukung berbagai aktivitas operasional, mulai dari transaksi bisnis, administrasi, hingga pengelolaan pelanggan. Jika data tersebut hilang akibat kerusakan perangkat, kesalahan manusia, serangan siber, atau gangguan sistem, perusahaan dapat mengalami kerugian dan terhambat dalam menjalankan aktivitasnya.

Karena itu, perusahaan membutuhkan strategi backup data aman untuk memastikan informasi penting tetap tersedia ketika terjadi gangguan. Namun, apakah menyimpan salinan data di satu tempat sudah cukup untuk melindungi seluruh informasi perusahaan?

Mengapa Backup Data Penting untuk Perusahaan?

Backup data merupakan proses membuat salinan informasi digital agar dapat dipulihkan ketika data asli mengalami kerusakan, kehilangan, atau tidak dapat diakses. Proses ini menjadi bagian penting dari pengelolaan infrastruktur IT perusahaan.

Tanpa sistem pencadangan yang terencana, perusahaan berisiko kehilangan dokumen operasional, database pelanggan, laporan keuangan, hingga konfigurasi server. Risiko tersebut juga dapat meningkat ketika perusahaan mengalami serangan ransomware yang mengenkripsi atau menghapus data.

Menurut panduan National Institute of Standards and Technology (NIST), proses backup perlu dilakukan, dipelihara, dan diuji agar perusahaan memiliki kemampuan pemulihan ketika terjadi insiden kehilangan data.

7 Strategi Backup Data yang Aman untuk Perusahaan

Membangun sistem pencadangan tidak cukup hanya dengan menyalin file secara berkala. Perusahaan juga perlu memperhatikan lokasi penyimpanan, keamanan akses, dan kemampuan memulihkan data.

Berikut tujuh strategi backup data aman yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan operasional perusahaan.

1. Terapkan Metode Backup 3-2-1

Metode 3-2-1 merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam pengelolaan backup data. Strategi ini membantu mengurangi risiko kehilangan seluruh salinan data ketika satu media penyimpanan mengalami kerusakan.

Penerapannya meliputi:

  • 3 salinan data: satu data utama dan dua salinan cadangan.
  • 2 jenis media penyimpanan: gunakan dua media berbeda, misalnya NAS dan cloud storage.
  • 1 salinan off-site: simpan satu backup di lokasi berbeda dari kantor utama.

Dengan metode tersebut, perusahaan memiliki beberapa alternatif pemulihan ketika terjadi gangguan pada sistem utama.

2. Jadwalkan Backup Secara Otomatis

Backup yang dilakukan secara manual berisiko terlupakan, terutama ketika aktivitas operasional perusahaan semakin padat. Karena itu, perusahaan sebaiknya menggunakan sistem pencadangan otomatis. Jadwal backup dapat disesuaikan dengan frekuensi perubahan data. Misalnya, database transaksi membutuhkan pencadangan lebih sering dibandingkan dokumen arsip yang jarang diperbarui.

3. Gunakan NAS Storage untuk Penyimpanan Terpusat

Perusahaan yang memiliki banyak perangkat dan pengguna membutuhkan sistem penyimpanan yang terorganisasi. Salah satu solusinya adalah menggunakan NAS Storage untuk menyimpan dan mengelola data melalui jaringan.

NAS memungkinkan beberapa pengguna atau sistem yang memiliki izin untuk mengakses penyimpanan terpusat. Kapasitasnya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan data perusahaan. Namun, NAS tetap perlu dikonfigurasi dengan benar dan tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya salinan backup. Penggunaan RAID juga tidak menggantikan kebutuhan pencadangan terpisah.

4. Manfaatkan Cloud Backup

Cloud backup memungkinkan perusahaan menyimpan salinan data pada infrastruktur penyimpanan berbasis cloud. Pendekatan ini membantu menyediakan salinan data di luar lokasi kantor sehingga risiko kehilangan data akibat kerusakan fisik di satu tempat dapat dikurangi.

Perusahaan dapat mempertimbangkan layanan Cloud Services untuk mendukung kebutuhan penyimpanan dan pemulihan data. Pastikan layanan yang dipilih memiliki enkripsi, pengaturan akses, kebijakan retensi, dan kemampuan pemulihan yang sesuai.

5. Lindungi Backup dengan Enkripsi dan Kontrol Akses

Data cadangan tetap berpotensi menjadi target serangan siber apabila tidak dilindungi dengan baik. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan enkripsi untuk melindungi data selama proses transfer maupun ketika disimpan.

Selain itu, batasi akses backup hanya kepada personel yang berwenang. Gunakan autentikasi yang kuat dan pisahkan akun pengelola backup dari akun sistem produksi untuk mengurangi risiko penyalahgunaan akses. CISA juga merekomendasikan penyimpanan backup secara offline dan terenkripsi, serta pengujian berkala untuk menghadapi risiko ransomware.

6. Sediakan Backup Offline atau Immutable

Backup yang selalu terhubung ke jaringan utama berpotensi ikut terdampak ketika terjadi serangan ransomware. Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan dapat menyediakan salinan backup offline atau menggunakan teknologi immutable backup.

Immutable backup memungkinkan data cadangan dilindungi dari perubahan atau penghapusan selama periode retensi yang telah ditentukan. Sementara itu, backup offline disimpan dalam kondisi terputus dari jaringan sehingga tidak mudah dijangkau oleh serangan yang menyebar melalui sistem perusahaan.

7. Lakukan Pengujian Restore Secara Berkala

Memiliki banyak salinan backup belum tentu menjamin data dapat dipulihkan dengan baik. File cadangan bisa saja rusak, tidak lengkap, atau mengalami masalah kompatibilitas ketika proses pemulihan dilakukan.

Karena itu, perusahaan perlu melakukan pengujian restore secara berkala. Pengujian ini dapat mencakup pemulihan dokumen, database, aplikasi, hingga sistem server. Perusahaan juga perlu menentukan Recovery Point Objective (RPO) dan Recovery Time Objective (RTO). RPO berkaitan dengan batas kehilangan data berdasarkan waktu, sedangkan RTO menentukan target waktu pemulihan sistem setelah gangguan.

Bangun Strategi Backup Data Aman Bersama RajaServer

Menerapkan strategi backup data aman membutuhkan kombinasi perangkat penyimpanan, sistem pencadangan, keamanan, dan monitoring yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Setiap bisnis memiliki kapasitas data serta tingkat ketergantungan sistem yang berbeda sehingga perencanaannya perlu dilakukan secara menyeluruh.

Melalui layanan Storage & Backup RajaServer, perusahaan dapat mempertimbangkan solusi penyimpanan dan pencadangan data sesuai kebutuhan infrastruktur IT. Dukungan perangkat NAS Storage dan Cloud Services juga dapat menjadi bagian dari perencanaan sistem backup.

Selain itu, perusahaan dapat memanfaatkan layanan Managed IT Services untuk membantu monitoring, maintenance, dan pengelolaan infrastruktur secara berkala. Hubungi RajaServer melalui WhatsApp +628998401080

FAQ Seputar Strategi Backup Data Aman

Apa strategi backup data yang paling umum digunakan?

Metode 3-2-1, yaitu memiliki tiga salinan data, menggunakan dua jenis media penyimpanan, dan menyimpan satu salinan di lokasi berbeda.

Seberapa sering perusahaan harus melakukan backup data?

Frekuensinya bergantung pada tingkat perubahan dan kepentingan data. Data transaksi biasanya membutuhkan pencadangan lebih sering.

Apakah NAS Storage cukup untuk backup data perusahaan?

NAS dapat digunakan sebagai media penyimpanan backup, tetapi sebaiknya tetap dilengkapi salinan cadangan di media atau lokasi berbeda.

Apa perbedaan backup offline dan cloud backup?

Backup offline disimpan tanpa koneksi jaringan, sedangkan cloud backup menyimpan salinan data pada infrastruktur penyimpanan berbasis cloud.

Mengapa pengujian restore penting?

Pengujian restore memastikan data cadangan dapat dipulihkan dan digunakan kembali ketika sistem utama mengalami gangguan.

author-avatar

About Raja Server Indonesia

RajaServer adalah unit bisnis spesialis infrastruktur IT dari PT Kirana Sakti Komputindo yang berfokus pada solusi server, storage, networking, data center, cloud, dan managed services.